INFO:

Jalan Letnan Sutopo Kav. B2 No.1-2 Sektor XIV.4 BSD City,
Tangerang Selatan

+62-21-5388-018
+62-8960-57-0000-9

Written by Administrator
Hits: 389

Jurnalis : Jennifer Aster Visakha
Fotografer : Samma Ditthi


Jumat, 3 Februari 2017, merupakan hari teristimewa bagi siswa-siswi SMP Ehipassiko School BSD, karena pada tanggal tersebut mereka berkesempatan baik untuk melaksanakan acara Tangerang City Tour2017. Kadangkala kita sering bertanya-tanya "Sudah pergi ke berbagai kota di luar kota dan negeri, namun apakah anda sudah pernah mengelilingi kota sendiri?". Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka SMP Ehipassiko School BSD mengadakan acara ini.

Acara ini diselenggarakan guna menumbuhkembangkan pengetahuan siswa-siswi mengenai Sejarah Kota Tangerang dan kebudayaan etnis Tionghoa di Kota Tangerang. Tempat-tempat yang dikunjungi oleh siswa-siswi merupakan tempat-tempat legendaris di Kota Tangerang. Tempat tujuan pertama kami adalah Klenteng Tjo Soe Kong. Klenteng ini merupakan klenteng yang sudah sangat populer di daerah Tanjung Kait. Alkisah, saat terjadinya tsunami bertahun-tahun yang lalu, Klenteng Tjo Soe Kong merupakan salah satu tempat yang tidak terkena tsunami. Walaupun cuaca gelap saat itu, tidak mematahkan semangat siswa-siswi untuk mencari tahu seluk beluk dari Klenteng Tjo Soe Kong.


Antusias siswa-siswi juga terlihat saat acara tanya jawab dilaksanakan di Dhammashala, hampir seluruh siswa-siswi ingin mengetahui secara lebih dalam mengenai sejarah Klenteng Tjoe Soe Kong. Di Klenteng Tjoe Soe Kong siswa-siswi pun diajak untuk berkeliling. Saat narasumber mengajak mereka melihat sebuah sumur kramat yang berada di dalam lingkungan klenteng ini, antusias pun semakin memuncak, siswa-siswi diperkenankan untuk mencuci muka di sumur tua ini. Konon, air di sumur kramat ini dulu dijadikan sumber mata air untuk warga setempat, namun keunikan dari sumur kramat ini air yang berada di dalamnya berasa tawar, padahal letak lokasi Klenteng Tjoe Soe Kong dekat dengan laut.

Hujan mulai turun, kami pun memutuskan untuk menunda perjalanan kami sebentar. Sambil menunggu hujan berhenti, siswa-siswi pun menyantap makan siang, suasana yang dingin berubah menjadi penuh kehangatan, setelah hujan berhenti kami pun melanjutkan perjalanan menuju Vihara Dharma Cariya. Vihara ini hanya berjarak sekitar (+-) 1 km dari Klenteng Tjoe Soe Kong sehingga kami memutuskan untuk berjalan kaki, di perjalanan anak-anak disuguhkan pemandangan pedesaan yang alami.


Vihara Dharma Cariya merupakan satu-satunya vihara di Tanjung Kait. Setelah kurang lebih 30 menit mendengarkan penjelasan dari narasumber, perjalanan kami pun dilanjutkan menuju Museum Benteng Heritage. Namun, sebelum itu siswa-siswi diajak untuk singgah sebentar di Klenteng Mak Dato. Klenteng ini juga merupakan salah satu tempat yang juga tidak terkena tsunami.


Setibanya di Museum Benteng Heritage, antusias pun mulai nampak kembali, melihat arsitektur bangunan museum membuat mereka merasa kagum. Museum Benteng Heritage merupakan museum yang pembuatannya diprakarsai oleh seorang budayawan bernama Udayasakkha Halim. Museum ini terdapat banyak sekali benda-benda unik dan antik yang kental sekali dengan etnis Tionghoa di Kota Tangerang di masa lampau, siswa-siswi pun diperbolehkan mencoba membuka Pintu Ajaib.


Walaupun hari sudah menjelang sore, namun semangat siswa-siswi belum terpatahkan. Setelah seharian penuh menjadi seorang petualang mulai dari mengunjungi Klenteng Tjoe Soe Kong, Vihara Dharma Cariya, Klenteng Mak Dato dan Museum Benteng Heritage, akhirnya siswa-siswi pun mengunjungi Klenteng Boen Tek Bio, klenteng yang tertua di Kota Tangerang ini menyimpan sejarah yang panjang. Bahkan, seperti Klenteng Tjoe Soe Kong, Klenteng Boen Tek Bio juga merupakan salah satu tempat yang tidak terkena tsunami. Akhirnya, semua tempat sudah dikunjungi, tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 5 sore, perut sudah mulai berbunyi-bunyi, siswa-siswi pun sangat antusias menyantap beraneka ragam kuliner khas pasar lama.

Category: