JM Services - шаблон joomla Создание сайтов
Vinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.x

Jurnalis : Stephanie Graciela Divian
Fotografer : Mr. Ditthi

 

Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, kali ini kami tidak melaksanakan kegiatan belajar mengajar seperti biasa. Selasa, 15 Agustus 2017 kami mendapat kunjungan dari mahasiswa dan mahasiswi Tzu Chi yang datang dari Taiwan, mereka kemudian akan mengisi kegiatan selama kurang lebih 7 jam dengan berbagai hal. Kegiatan pada hari itu dimulai dengan berkumpul bersama di ruang Dhammasala. Seperti kegiatan pada umumnya, perwakilan dari kedua pihak (Ehipassiko dan Tzu Chi) memberikan sambutan. Namun, sambutan kali ini terasa lebih berbeda karena penggunaan bahasa antara kami dan para mahasiswa dari Taiwan tidak sama dan mengharuskan kedua pihak memiliki masing-masing satu penerjemah, baik itu Bahasa Indonesia-Mandarin atau sebaliknya. Hal itu tidak menjadi masalah, dan sambutan berjalan dengan lancar berkat adanya penerjemah.

Setelah acara pembukaan selesai, semua murid kembali menuju kelasnya masing-masing. Kemudian para mahasiswa membentuk kelompok-kelompok kecil yang berisi empat orang dan satu penerjemah, kemudia mereka menyebar pada setiap kelas yang ada. Acara di dalam kelas dibagi menjadi 3 sesi. 

Sesi pertama dimulai dengan perkenalan mahasiswa/i yang berada di kelas kami. Tentu saja dengan bantuan penerjemah yang juga berada di kelas kami. Setelah perkenalan, kegiatan dilakukan dengan bernyanyi bersama dan menari bersama. Saat itu lagu yang kami nyanyikan adalah lagu Indonesia yang berjudul “Di sini Senang Di sana Senang”. Kami merasa gembira karena mereka dapat menyanyikan lagu dari negara kami. Wahh.. respect! Acara selanjutnya setelah bernyanyi bersama, kami diajarkan untuk bertepuk tangan ala orang Taiwan. Kata mereka, gaya bertepuk tangan seperti itu dilakukan di Taiwan agar selalu bersemangat. Pertama kami melakukannya bersama-sama, lalu kami membuat kelompok dan melakukan tepuk tangan dengan gaya yang berbeda. Terakhir kami melakukan-nya secara bersama-sama kembali, namun dengan gaya bebas.

Sesi kedua kami bermain games bersama. Adapun jenis-jenis permainan-nya yaitu meniup bola dan menyamakan warna bola pada masing-masing piring. Permainan ini bermakna bahwa kami adalah orang-orang yang berbeda, namun kami harus menghargai satu sama lain. Maknanya agak mirip dengan semboyan negara Indonesia yaitu “Bhinneka Tunggal Ika”. Setelah bermain, kami melanjutkan sesi dengan menemukan cara-cara berterima kasih dengan hal-hal yang ada disekitar kami. Pada kali ini, kami diingatkan untuk selalu berterima kasih atas segala yang kami dapatkan.

Sesi ketiga ini kami melakukan beberapa permainan seperti: memindahkan air dengan 3 alat (sedotan, sendok dan tutup botol) ke dalam botol kura-kura tersesat, meniup karet di tali, bercerita, menulis impian di puzzle, pemberian rasa terima kasih juga berfoto bersama. Permainan pertama yaitu memindahkan air dengan 3 alat yang berbeda ke dalam botol.

 

Permainan pertama, para Shixiong dan Shijie akan membagi anggota menjadi 2 kelompok ( laki-laki dan perempuan). Setelah itu, permainan akan dibagi menjadi 2 tingkatan (mudah dan sulit). Sesi pertama tingkat permainan mudah, pada tingkatan ini akan diletakkan 1 buah ember kecil berisi air dan 3 alat ( sedotan, sendok, dan tutup botol kecil) disamping ember. Tiap kelompok harus bergantian menggunakan alat yang berbeda untuk memindahkan air dalam ember kecil ke dalam botol. Lalu dilanjutkan dengan sesi 2 dengan tingkat permainan yang sulit, dimana kami harus berputar sebanyak 5x baru dipersilahkan mengambil alat dan memindakannya ke dalam botol. Seperti sesi sebelumnya, tiap anggota harus menggunakan alat yang berbeda untuk memindahkannya.Setelah selesai, para Shixiong dan Shijie menjelaskan apa makna dari permainan tersebut. Makna dari permainan memindahkan air dengan 3 alat yang berbeda ke dalam botol adalah untuk memberi tahu kami bagaimana sulitnya air itu didapat dan bagaimana perjuangan orang-orang yang berada di daerah sukar air untuk mendapatkan air bersih bagi hidup mereka. Maka kami dihimbau untuk selalu berhemat air, karena dengan menghemat air, sebenarnya kita telah membantu orang diluar yang membutuhkan air.

Permainan kedua yaitu kura-kura tersesat: Pertama, para Shixiong dan Shijie akan membagi anggota menjadi 2 kelompok (laki-laki dan perempuan). Dimana Kura-kura tersesat dimainkan dengan beberapa alat yakni kantong plastik dan bola ping pong. Kantong plastik yang digunakan adalah kantong plastik buram dan akan dipakai dikepala. Tugasnya adalah memakai kantong plastik di kepala dan melempar bola ping pong dari tangan kanan/kiri ke tangan kita yang lainnya dan baru boleh berpindah gilir jika pemain sudah berhasil menangkap bola pingpong dengan tangan lainnya. Kelompok yang cepat menyelesaikan sampai semua anggota kelompoknya berhasil maka ia menang. Setelah selesai, para Shixiong dan Shijie menjelaskan apa makna dari permainan tersebut. Makna dari permainan kura-kura tersesat adalah untuk memperlihatkan pada kami bagaimana kura-kura yang kepalanya terikat/ tersangkut dalam kantong plastik yang ada di lautan. Maka dari itu, kami dihimbau untuk tidak menggunakan plastik dan tidak membuangnya disembarang tempat.

Permainan ketiga yaitu meniup karet di tali: Seperti biasa, akan ada 2 kelompok (laki-laki dan campuran). Permainan ini dilakukan dengan perwakilan 2 anggota dari masing-masing kelompok untuk memegang tali pada tiap ujungnya. Lalu Shixiong dan Shijie akan memasukkan karet makanan ke ujung tali. Tugas kami adalah meniup karet tersebut sampai ke ujung tali yang lainnya.
Permainan usai, para Shixiong dan Shijie menjelaskan apa makna dari permainan tersebut. Makna dari permainan meniup karet di tali adalah untuk mengingatkan kita bahwa saat kita meniup akan keluar sedikit angin untuk menggerakkan karet tersebut, dimana masih banyak sumber tenaga untuk kehidupan manusia yang butuh angin. Maka kami dihimbau untuk menghemat segala sumber energi (listrik) karena masih ada wilayah dan orang yang masih kesulitan dan membutuhkan sumber tenaga ( listrik) ini.

Sesi keempat adalah bercerita: Sesi ke-4, kami mendengarkan cerita Shixiong dari Taiwan. Dimana Shixiong akan menceritakan 3 cerita berbeda.

Cerita pertama dimulai dengan seorang anak kecil laki-laki yang duduk di pangkuan Sang kakek. Sang anak bertanya: ” saat besar nanti aku ingin tinggal di pinggir pantai sama seperti kakek”. “Tapi ada syaratnya” kata kakek. “Apa itu?” jawab si anak kecil. “Kamu harus membuat dunia indah” . Lalu sang anak berpikir dan berkata “Baiklah”. Karena sang anak masih kecil, ia hanya bisa bersekolah dan mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik. Seiring berjalannya waktu Sang anak mulai tumbuh dewasa dan ia mengingat syarat yang diberikan kakeknya dulu. Lalu ia pergi ke taman yang dekat dengan pantai, disana ia membawa beberapa biji bunga dan menaburkannya dimana-mana. Orang di sekitarnya menganggap ia orang aneh, tapi beberapa saat kemudian bunga-bunga mulai tumbuh dan menghiasi taman tersebut. Pada akhirnya orang-orang tidak menganggapnya aneh lagi dan ia berhasil membuat dunia indah.

Cerita kedua berkisah tentang Master Cheng Yen. Master Cheng Yen berbelanja dan mendapat kembalian 5 sen, ia terpikir untuk menyisihkan 5 sen tersebut setiap hari. Ibu-ibu di pasar bertanya "Mengapa harus menyisihkan 5 sen setiap hari?. Mengapa tidak sekaligus dalam 1 hari untuk 1 bulan?”, Master Cheng Yen menjawab: ” Jika aku menyisihkan 1 hari sekaligus maka aku hanya berbuat kebaikan sehari, maka aku menyisihkan-nya setiap hari, maka aku berbuat kebaikan setiap hari.”

Cerita ketiga Bapak-bapak yang bekerja di sawah sebagai petani padi, ia berpikir jika orang diluar sana sulit mendapatkan beras dan ia terarah untuk hanya memasak 1 genggam beras setiap harinya untuk menghemat dan bisa membantu orang lain diluar sana.

Sesi kelima adalah menulis impian di puzzle: Setiap orang akan mendapatkan 1 puzzle yang terdapat tempat untuk menulis pesan yang ada di belakang puzzle tersebut dan ada kotak untuk menyimpan puzzle. Kami diminta untuk menulis harapan dan cita-cita yang ingin kami capai nantinya, setelah menulis kami akan melipat kotak tersebut dan memisahkan tiap puzzle dan memasukkannya kedalam kotak puzzle. Di atas kotak puzzle terdapat kotak kosong yang digunakan untuk menulis nama dan tanggal kami menulis harapan dan cita-cita ini. Lalu Shixiong dan Shijie bilang bahwa kami boleh membukanya setelah harapan dan impian yang kami tulis di puzzle telah tercapai.

Seluruh rangkaian acara dengan para mahasiswa Tzu Chi telah usai, kami melanjutkan untuk pemberian rasa terima kasih dan foto bersama, sebagai kenang-kenangan di antara kami. Tidak hanya berfoto bersam, setelah menulis puzzle, kami diberikan hadiah berupa kotak berisi pulpen dan sebuah kata-kata mutiara sebagai pembatas buku. Kebahagian terpancar jelas pada diri kami dan para mahasiswa dari Tzu Chi. Gan En....